Anjali
Ini cerita tentang kucing kami. Sekitar satu tahun yang lalu, kami pindah dari rumah mertua ke rumah kami yang letaknya jauh terpencil ke daerah perkebunan di pelosok Bulukumba, Sulawesi Selatan. Setelah beberapa lama, suami saya menyampaikan keinginannya untuk memiliki kucing. Pada dasarnya saya tidak keberatan. Tapi, sejujurnya saya punya trauma tersendiri terkait dengan kucing. Hal ini karena dulu, saya pernah punya seekor kucing. Kami sekeluarga begitu menyayanginya hingga suatu saat kucing kami itu meninggal, kami merasa sangat terpukul. Sejak saat itu, kami sekeluarga terutama saya pribadi merasa sangat sedih dan memutuskan untuk tidak lagi memiliki hewan piaraan.
Namun, ketika suami saya menyarankan untuk memiliki seekor kucing, saya pun mengiyakan. Saat itu, kami diberi sepasang kucing kecil yang baru saja dipisahkan dari induknya. Sayalah yang paling bersemangat memberikan nama bagi kedua kucing lucu tersebut. Yang jantan saya beri nama Rahul, dan yang betina saya beri nama Anjali. Yah...seperti Rahul dan Anjali dalam film Kuch Kuch Hota Hai yang fenomenal itu. Tidak ada makna filosofis apapun dibalik nama itu. Hanya sebagai bukti kecintaan saya pada Shah Rukh Khan.
Kami tinggal di sebuah rumah panggung sederhana di tengah perkebunan. Di samping berkebun, kami memelihara beberapa ekor sapi dan ayam. Nah, di sinilah masalahnya. Si jantan Rahul, sangat doyan makan daging ayam. Tak jarang ia memburu lalu menyantap anak-anak ayam kami. Akhirnya, dengan berat hati, suami saya membawa Rahul ke tempat yang jauh dari rumah dan meninggalkannya di sana. Sementara Anjali masih tinggal dengan kami sampai saat ini.
Waktu berlalu, kami memutuskan untuk pindah ke Makassar. Pada awal kepindahan, kami sangat sibuk dengan urusan rumah baru dan pekerjaan. Anjali tidak menjadi bahan pertimbangan kami. Kendati tinggal di Makassar, tapi kami selalu pulang di waktu-waktu tertentu. Suatu saat, pada liburan yang terbilang singkat, kami pulang dan menghabiskan waktu selama kurang lebih dua hari. Seperti biasa, suami saya melakukan aktifitas berkebunnya sedangkan saya sibuk menikmati aktifitas istirahat, memasak, dan menikmati suasana sunyi di rumah kami. Kami sempat sesekali saling bertanya tentang keberadaan Anjali. Namun perbincangan selalu kami akhiri dengan kesimpulan bahwa "mungkin ia pergi, meninggalkan rumah, dan mencari makan di tempat lain".
Sebulan kemudian, kami kembali pulang dalam rangka liburan yang agak panjang. Kami tiba di rumah persis tengah malam. Ba'da Subuh, kami mendengar suara Anjali sayup-sayup dari balik pintu. Begitu pintu kami buka, ia berlari masuk sembari mengelus-elus dirinya di kaki suami saya. Sejak hari itu, hingga kami kembali ke Makassar, tak sekalipun ia pergi meninggalkan rumah. Ia hanya turun sesekali entah untuk apa.
Saya sangat terharu ketika kami akan pulang kembali ke Makassar. Pagi itu, kami bangun pagi-pagi sekali. Biasanya, karena suasana yang sangat dingin, setelah Subuh, kami masih kembali berselimut dan baru melanjutkan aktifitas setelah matahari agak tinggi dan suasana sudah lebih hangat. Namun hari itu, kami harus mulai beraktifitas lebih awal agar bisa segera kembali ke Makassar untuk menghindari macet.
Seperti biasa, suami saya turun dan mulai berkutat dengan kebun dan sapi serta ayam-ayamnya. sementara saya sibuk menyiapkan barang-barang dan persiapan kepulangan serta membersihkan rumah sebelum ditinggalkan. Sementara kami sibuk berkutat dengan berbagai persiapan, Anjali tak beranjak dari tempatnya. melingkarkan tubuh sambil menengok ke kiri dan ke kanan mengikuti langkah-langkah saya yang mondar-mandir dari dapur ke kamar, dari kamar ke ruang tengah, dari ruang tengah ke ruang tamu, lalu keluar ke tangga, turun, lalu naik lagi, lalu turun lagi, dan seterusnya. Sesekali saya meliriknya.
Entah kenapa saya merasa Anjali terlihat berbeda. Ia terlihat murung. Biasanya, jika sedang berada di atas rumah, Anjali akan sibuk menggaruk-garuk kursi atau karpet, lalu mengikuti saya ke dapur. Lalu memaksa saya untuk membawakannya makanan, bahkan ia tidak akan berhenti menggoda saya kendati makanannya sudah saya berikan. Namun hari ini, ia tak bergeming. Ia tak lagi menggaruk-garuk karpet, tidak lagi mengigit-gigit kursi, dan tak lagi mengikuti saya mondar-mandir. Bahkan, ketika saya menyodorkan makanannya, ia tetap tak bergeming. Ia diam saja hingga saya pasrah dan hanya meletakkan makanannya di tempatnya. Beberapa waktu berlalu, Anjali tak bergerak. Makanannya masih utuh. Ia hanya sesekali memindahkan mata mengikuti saya bergerak dari satu ruangan ke ruangan lainnya.
Suami saya sudah selesai dengan pekerajaan kebunnya. Begitu pula saya. Semua barang sudah siap di mobil. Kami siap berangkat. Sebelum berangkat, kami masih sempat melihat Anjali. Di tempat yang sama. Masih belum bergerak. Hingga kami akan menutup pintu, Anjali melangkah. Gontai. Melewati kami yang berdiri di pintu. Lalu pergi, tak menoleh. Hati kami teriris. Beberapa menit, saya dan suami tak bersuara. Pikiran dan hati kami tertuju pada Anjali. Menatapnya pergi, kami merasa bersalah meninggalkannya sendiri.