Monday, January 4, 2016

Anjali

Ini cerita tentang kucing kami. Sekitar satu tahun yang lalu, kami pindah dari rumah mertua ke rumah kami yang letaknya jauh terpencil ke daerah perkebunan di pelosok Bulukumba, Sulawesi Selatan. Setelah beberapa lama, suami saya menyampaikan keinginannya untuk memiliki kucing. Pada dasarnya saya tidak keberatan. Tapi, sejujurnya saya punya trauma tersendiri terkait dengan kucing. Hal ini karena dulu, saya pernah punya seekor kucing. Kami sekeluarga begitu menyayanginya hingga suatu saat kucing kami itu meninggal, kami merasa sangat terpukul. Sejak saat itu, kami sekeluarga terutama saya pribadi merasa sangat sedih dan memutuskan untuk tidak lagi memiliki hewan piaraan.

Namun, ketika suami saya menyarankan untuk memiliki seekor kucing, saya pun mengiyakan. Saat itu, kami diberi sepasang kucing kecil yang baru saja dipisahkan dari induknya. Sayalah yang paling bersemangat memberikan nama bagi kedua kucing lucu tersebut. Yang jantan saya beri nama Rahul, dan yang betina saya beri nama Anjali. Yah...seperti Rahul dan Anjali dalam film Kuch Kuch Hota Hai yang fenomenal itu. Tidak ada makna filosofis apapun dibalik nama itu. Hanya sebagai bukti kecintaan saya pada Shah Rukh Khan.

Kami tinggal di sebuah rumah panggung sederhana di tengah perkebunan. Di samping berkebun, kami memelihara beberapa ekor sapi dan ayam. Nah, di sinilah masalahnya. Si jantan Rahul, sangat doyan makan daging ayam. Tak jarang ia memburu lalu menyantap anak-anak ayam kami. Akhirnya, dengan berat hati, suami saya membawa Rahul ke tempat yang jauh dari rumah dan meninggalkannya di sana. Sementara Anjali masih tinggal dengan kami sampai saat ini.

Waktu berlalu, kami memutuskan untuk pindah ke Makassar. Pada awal kepindahan, kami sangat sibuk dengan urusan rumah baru dan pekerjaan. Anjali tidak menjadi bahan pertimbangan kami. Kendati tinggal di Makassar, tapi kami selalu pulang di waktu-waktu tertentu. Suatu saat, pada liburan yang terbilang singkat, kami pulang dan menghabiskan waktu selama kurang lebih dua hari. Seperti biasa, suami saya melakukan aktifitas berkebunnya sedangkan saya sibuk menikmati aktifitas istirahat, memasak, dan menikmati suasana sunyi di rumah kami. Kami sempat sesekali saling bertanya tentang keberadaan Anjali. Namun perbincangan selalu kami akhiri dengan kesimpulan bahwa "mungkin ia pergi, meninggalkan rumah, dan mencari makan di tempat lain".

Sebulan kemudian, kami kembali pulang dalam rangka liburan yang agak panjang. Kami tiba di rumah persis tengah malam. Ba'da Subuh, kami mendengar suara Anjali sayup-sayup dari balik pintu. Begitu pintu kami buka, ia berlari masuk sembari mengelus-elus dirinya di kaki suami saya. Sejak hari itu, hingga kami kembali ke Makassar, tak sekalipun ia pergi meninggalkan rumah. Ia hanya turun sesekali entah untuk apa.

Saya sangat terharu ketika kami akan pulang kembali ke Makassar. Pagi itu, kami bangun pagi-pagi sekali. Biasanya, karena suasana yang sangat dingin, setelah Subuh, kami masih kembali berselimut dan baru melanjutkan aktifitas setelah matahari agak tinggi dan suasana sudah lebih hangat. Namun hari itu, kami harus mulai beraktifitas lebih awal agar bisa segera kembali ke Makassar untuk menghindari macet.

Seperti biasa, suami saya turun dan mulai berkutat dengan kebun dan sapi serta ayam-ayamnya. sementara saya sibuk menyiapkan barang-barang dan persiapan kepulangan serta membersihkan rumah sebelum ditinggalkan. Sementara kami sibuk berkutat dengan berbagai persiapan, Anjali tak beranjak dari tempatnya. melingkarkan tubuh sambil menengok ke kiri dan ke kanan mengikuti langkah-langkah saya yang mondar-mandir dari dapur ke kamar, dari kamar ke ruang tengah, dari ruang tengah ke ruang tamu, lalu keluar ke tangga, turun, lalu naik lagi, lalu turun lagi, dan seterusnya. Sesekali saya meliriknya.

Entah kenapa saya merasa Anjali terlihat berbeda. Ia terlihat murung. Biasanya, jika sedang berada di atas rumah, Anjali akan sibuk menggaruk-garuk kursi atau karpet, lalu mengikuti saya ke dapur. Lalu memaksa saya untuk membawakannya makanan, bahkan ia tidak akan berhenti menggoda saya kendati makanannya sudah saya berikan. Namun hari ini, ia tak bergeming. Ia tak lagi menggaruk-garuk karpet, tidak lagi mengigit-gigit kursi, dan tak lagi mengikuti saya mondar-mandir. Bahkan, ketika saya menyodorkan makanannya, ia tetap tak bergeming. Ia diam saja hingga saya pasrah dan hanya meletakkan makanannya di tempatnya. Beberapa waktu berlalu, Anjali tak bergerak. Makanannya masih utuh. Ia hanya sesekali memindahkan mata mengikuti saya bergerak dari satu ruangan ke ruangan lainnya.

Suami saya sudah selesai dengan pekerajaan kebunnya. Begitu pula saya. Semua barang sudah siap di mobil. Kami siap berangkat. Sebelum berangkat, kami masih sempat melihat Anjali. Di tempat yang sama. Masih belum bergerak. Hingga kami akan menutup pintu, Anjali melangkah. Gontai. Melewati kami yang berdiri di pintu. Lalu pergi, tak menoleh. Hati kami teriris. Beberapa menit, saya dan suami tak bersuara. Pikiran dan hati kami tertuju pada Anjali. Menatapnya pergi, kami merasa bersalah meninggalkannya sendiri.


Thursday, August 20, 2015

Tuhan Sedang Mengajariku...
#part 1

Oktober 2012,

Aira tak bergeming. Tubuhnya membeku. Pandangannya tak lepas dari layar telepon genggam yang sejak lima jam yang lalu ia pegang. Berulang kali ia mencoba membuka nomor kontak yang sama. Lalu memberanikan diri menekan tombol "call" lalu menutupnya kembali sebelum nada panggil terdengar.

Bagi Aira, menelpon orang tua nya jauh lebih berat dari pada menelpon bosnya lalu mengaku sakit dan tidak bisa masuk kantor hanya karena ia masih ingin tidur dan bermalas-malasan seharian. Sejak setahun terakhir, ia tak pernah menyimpan nomor ayahnya di daftar kontak di teleponnya. Namun deretan angka itu selalu tersimpan rapih dalam hati dan memorinya. Setahun terakhir ini adalah tahun terberat dalam hidup Aira. Begitu beratnya hingga badannya tak berhenti gemetar dan jantungnya berdegup begitu kencang tiap kali nomor tak teregistrasi muncul di teleponnya. Ia begitu trauma. Ia jatuh begitu dalam.

....

Juli 2009,

Pak Ibnu tergopoh-gopoh meraih telepon genggamnya yang sudah usang dan uzur seusang dan seuzur dirinya. Matanya sedikit terbelalak. Wajahnya agak kebingungan melihat rentetan angka di teleponnya. Lalu ia memalingkan wajahnya pada istrinya, Bu Lia, yang sedari tadi sibuk menyiangi sayuran yang baru saja dibelinya di pasar. "ini nomor apa yah?" tanya pak Ibnu pada istrinya. "sepertinya nomor rumah atau kantor", lanjutnya. 

Bu Lia lantas menyapu pandangannya pada nomor yang tertera di layar telepon suaminya. Belum sempat ia melihat dengan jelas, suaminya sudah menarik kembali telepon itu, menekan tombol terima, lalu meletakkannya di telinganya. Dengan nada ragu pak Ibnu mengucapkan salam. Sepertinya seseorang di seberang sana menjawab salamnya, lalu entah apa yang dikatakannya karena pak Ibnu hanya menjawabnya dengan ucapan "iya, ... iya....iya" dan seterusnya. Entah apa yang terjadi ia lantas menutup teleponnya lalu memandang istrinya dengan mata terbelalak.

Belum sempat bu Lia bertanya, pak Ibnu mulai meracau. "Ini telepon dari Jakarta. Mereka ingin bicara dengan Aira". Bu Lia sedikit bingun lalu buru-buru meminta suaminya segera menelpon Aira.

Aira merupakan sulung dari dua bersaudara. Ia termasuk anak yang sangat baik dan sangat patuh. Ia merupakan figur anak dambaan semua orang tua. sejak SMP dia telah menjadi bintang kelas. Tak pernah sekalipun ia pulang dengan nilai kurang dari 8. Dengan kecakapannya dalam berbahasa Inggris, Aira menjadi kebanggan sekolah dan kerap menjadi duta bagi sekolahnya dalam banyak perlombaan mulai dari tingkat sekolah hingga nasional. 

Lepas SMA, ia melanjutkan studinya ke jurusan Hubungan Internasional di salah satu perguruan tinggi terkemuka di Makassar. Kurang dari empat tahun, Aira berhasil meraih gelar sarjananya dengan predikat cum laude. Tak lama setelah diwisuda, Aira mendapatkan tawaran untuk menjadi seorang dosen di beberapa perguruan tinggi di kampung halamannya. 

Sembari menjadi dosen di dua perguruan tinggi swasta yang belum berumur satu tahun, Aira menginisiasi pendirian sebuah sekolah non-profit bagi anak-anak di daerah relokasi banjir di daerahnya. Kendati ia menghabiskan lebih banyak waktunya mengurusi sekolahnya tersebut, tak sepeserpun yang ia dapat dari sana untuk kantongnya sendiri. Bagi Aira, pengalaman pahitnya menjadi anak dari keluarga miskin yang begitu ingin belajar namun tak punya cukup uang untuk belajar menjadinkannya pribadi yang mudah prihatin. Sejarah hidupnya lah yang telah dengan begitu kuat mendorongnya untuk mendirikan sekolah yang bahkan tak punya gedung itu.

Dua tahun setelah diwisuda dan bekerja, Aira melewati proses panjang dalam kehidupan percintaannya hingga akhirnya ia menikah dengan salah seorang rekannya di kampus tempatnya mengajar. Dan begitulah, sekarang ia tengah hamil anak pertamanya. Jika tak ada aral, bulan September mendatang ia akan melahirkan. 

Pak Ibnu baru akan menelpon Aira saat keduanya sadar bahwa telepon genggam putrinya itu hilang beberapa minggu yang lalu dan belum sempat membeli gantinya. Dengan sabar dan berdebar, pak Ibnu dan bu Lia menunggu Aira pulang dari kampus tempatnya mengajar. "Biasanya dia sudah di rumah jam 12 siang karena jam 3 nanti dia ada kelas lagi" komentar bu Lia tak sabar.

45 menit lewat dari jam 12 Aira tiba. dengan perut buncit yang nyaris menenggelamkan seluruh tubuhnya dan dengan napas yang terengah-engah menopang berat bobotnya Aira memasuki rumah dan merebahkan badannya di kursi di ruang tengah. Seketika, pak Ibnu dan bu Lia menghampiri dan menyampaikan berita yang sedari tadi ingin mereka sampaikan. Mendengar cerita bapak dan ibu nya, Aira tertegun. Ia memang sedang menunggu telepon.

Dengan serta merta ia meraih telepon genggam bapaknya. Mencari nomor yang dimaksud lalu meneleponnya. Nada panggil terdengar. Tak lama, seseorang dari seberang sana menjawab. Aira lantas memperkenalkan dirinya. Aira terdiam beberapa saat menyimak kata demi kata dari seseorang di seberang sana. Lama tak bereaksi, Aira menutup telepon dengan air mata bercucuran.

Ditatapnya bapak dan ibunya dengan begitu lekat. Kedua orang tua itu mendadak kebingungan melihat Aira mengucurkan air mata. Belum sempat bertanya, Aira kembali terisak sembari berkata "Aira lulus, Bu. Aira dapat beasiswanya". Mereka bertiga menangis, lalu sujud syukur. Bening bulir air mata terus mengucur dari kedua mata Aira yang tak henti menyusuri sejarah hidupnya. Menyusuri lorong-lorong waktu yang membawanya kembali ke masa kecilnya yang pahit. 

Pak Ibnu tak punya pekerjaan tetap dan bu Lia yang hanya ibu rumah tangga. Pak Ibnu dulunya seorang supir bus, lalu berhenti dan menjadi tukang ojek, lalu berhenti lagi dan menjadi tukang tambal ban, lalu berhenti lagi dan menjadi supir truk di tambak udang milik orang cina. Dan akhirnya, ia berhenti lagi dan kembali mengelola bengkel tambal ban nya hingga sekarang. Aira dan keluarganya hidup serba pas-pasan. Saat anak-anak lain dibelikan sepeda, Aira hanya bisa membantu mendorong sepeda mereka saat mereka mengendarainya agar nanti diberi giliran untuk meminjam sepeda mereka. Saat anak-anak lain makan martabak telur sebagai cemilan, Aira dan adiknya makan martabak telur sebagai lauk pendamping nasi. Namun Aira tak pernah berkecil hati. Kendati sebagai anak ia juga ingin seperti teman-temannya, tak sekalipun ia menuntut apa-apa dari orang tuanya. Jauh dalam lubuk hatinya ia menyimpan asa bahwa suatu saat nanti, ia akan membuat orang tuanya bangga.

Hari itu akhirnya datang juga. "Aira akan kuliah di Amerika, bu". .....

tunggu part 2 nya yah...



Rough Tree with very beautiful flowers
at Sinclair Circle
University of Hawai'i at Manoa
2011

Wednesday, August 19, 2015


Magic Island from the nearby tower on Fourth of July by Andrea Allison

home

What comes to your mind when you hear the word "house" and what comes to your mind when you hear the word "home"? Those are just simple words which don't necessarily need to be thought. Not until I live my life now.

....

Days go on. I have lived my life for many reasons. Too many, that I can't even see my self alive. I lived a very ambitious life. I lived a full of goals life. Was it bad? was it not right?. May be not. I have regretted my past for too long time. I have spent my future mourning over it. Did I get anything out of it? I honestly don't know.

Yet, what I understand now is I can see another life and I can describe it in another word. Every thing happens for reasons. That's what people say. Now I'm in the state of figuring out the reasons beyond my past life.

I dreamed to have a big house full of air conditioner; like houses of the rich I saw on TV. I  dreamed to have lots of money so that I can buy luxurious car, branded bags, shoes, and clothes. I dreamed to have a happy marriage and a happy family. I thought I could be happy with those things.

Yet, God had never blessed my dreams.  He "ruins" my beautiful dreams. I didn't have the big house I dreamed of. I wasn't able to make lots of money nor was I able to keep my marriage. I was so low. I committed suicide for many times which was always fail. I didn't know where to go  neither did I know my reason to live.

I tried so hard to stand and the sooner I tried to stand the sooner I fell apart. I don't how many times did I fall. the only thing I could remember is that I fell to the lowest degree of my life. I always think that I was alone.

At the end, I realized that God was always there, teaching me the lesson. He gave me a really difficult lesson and brought me the state I'm in now. He tried to introduce me with the true meaning of being happy and the true meaning of a house.

Now, I'm so happy even I've only got a small stilt house in the middle of a small village. I'm so happy even if I have to commute from the city to the village every weekend to make money. I'm so happy even I can't spend a little penny of my salary to buy even the cheapest bag, shoes, or clothes. Happiness is in my heart; not in the size of my house or in the bags, shoes, or clothes I wear.
Andai Aku Bisa

andai aku bisa,
ingin aku menjadi jemari 
yang tiap saat bisa berdansa
menggoreskan pena di atas kertas
lalu ku ceritakan padamu
betapa ingin tanganku merangkulmu

andai aku bisa,
ingin aku menjadi sungai
yang riaknya tak punah
walau kadang kemarau menerpa
lalu ku katakan padamu
betapa ingin selalu memberimu hidup

andai aku bisa,
ingin aku menjadi ranting
yang ringkihnya tak menjadi rintang
untuk menopang sang daun
lalu ku nyanyikan padamu
betapa ingin ku usir lirih dari penatnya tanah airmu

Tapi percayalah,
walaupun aku tak menjadi jemari
kau akan mampu menggoreskan penamu sendiri
dan menceritakan pada dunia
betapa ingin dirimu ke sekolah, mengais keping-keping ilmu
lalu menghirupnya dalam sanubarimu
sama seperti mereka
yang bangun dari tempat tidur empuk dan selimut tebal nan lembut
lalu duduk rapi di meja makan
tanpa sadar...
dirimu bahkan tertidur dalam keadaan lapar
lalu ke sekolah dengan kaki telanjang 

Dan yakinlah,
walaupun aku tak menjadi sungai
kau akan mampu memberi hidup pada hidupmu sendiri
dan membisikkan doa di telinga Tuhanmu
agar Ia beridiri bersama mu
melewati kemarau yang meninggalkan retak pada tanah dan bibirmu
lalu kau pun bisa makan dengan nikmat 
meski hidangan mu bukanlah hidangan yang ada di meja makan mereka
lalu kau habiskan nasi dan garam dalam piringmu
saat mereka enggan makan ayam dan ikan yang menurut mereka "ah itu itu saja"

Hiduplah seperti itu
karena Tuhan mu ada di sana 
Bersamamu