Thursday, August 20, 2015

Tuhan Sedang Mengajariku...
#part 1

Oktober 2012,

Aira tak bergeming. Tubuhnya membeku. Pandangannya tak lepas dari layar telepon genggam yang sejak lima jam yang lalu ia pegang. Berulang kali ia mencoba membuka nomor kontak yang sama. Lalu memberanikan diri menekan tombol "call" lalu menutupnya kembali sebelum nada panggil terdengar.

Bagi Aira, menelpon orang tua nya jauh lebih berat dari pada menelpon bosnya lalu mengaku sakit dan tidak bisa masuk kantor hanya karena ia masih ingin tidur dan bermalas-malasan seharian. Sejak setahun terakhir, ia tak pernah menyimpan nomor ayahnya di daftar kontak di teleponnya. Namun deretan angka itu selalu tersimpan rapih dalam hati dan memorinya. Setahun terakhir ini adalah tahun terberat dalam hidup Aira. Begitu beratnya hingga badannya tak berhenti gemetar dan jantungnya berdegup begitu kencang tiap kali nomor tak teregistrasi muncul di teleponnya. Ia begitu trauma. Ia jatuh begitu dalam.

....

Juli 2009,

Pak Ibnu tergopoh-gopoh meraih telepon genggamnya yang sudah usang dan uzur seusang dan seuzur dirinya. Matanya sedikit terbelalak. Wajahnya agak kebingungan melihat rentetan angka di teleponnya. Lalu ia memalingkan wajahnya pada istrinya, Bu Lia, yang sedari tadi sibuk menyiangi sayuran yang baru saja dibelinya di pasar. "ini nomor apa yah?" tanya pak Ibnu pada istrinya. "sepertinya nomor rumah atau kantor", lanjutnya. 

Bu Lia lantas menyapu pandangannya pada nomor yang tertera di layar telepon suaminya. Belum sempat ia melihat dengan jelas, suaminya sudah menarik kembali telepon itu, menekan tombol terima, lalu meletakkannya di telinganya. Dengan nada ragu pak Ibnu mengucapkan salam. Sepertinya seseorang di seberang sana menjawab salamnya, lalu entah apa yang dikatakannya karena pak Ibnu hanya menjawabnya dengan ucapan "iya, ... iya....iya" dan seterusnya. Entah apa yang terjadi ia lantas menutup teleponnya lalu memandang istrinya dengan mata terbelalak.

Belum sempat bu Lia bertanya, pak Ibnu mulai meracau. "Ini telepon dari Jakarta. Mereka ingin bicara dengan Aira". Bu Lia sedikit bingun lalu buru-buru meminta suaminya segera menelpon Aira.

Aira merupakan sulung dari dua bersaudara. Ia termasuk anak yang sangat baik dan sangat patuh. Ia merupakan figur anak dambaan semua orang tua. sejak SMP dia telah menjadi bintang kelas. Tak pernah sekalipun ia pulang dengan nilai kurang dari 8. Dengan kecakapannya dalam berbahasa Inggris, Aira menjadi kebanggan sekolah dan kerap menjadi duta bagi sekolahnya dalam banyak perlombaan mulai dari tingkat sekolah hingga nasional. 

Lepas SMA, ia melanjutkan studinya ke jurusan Hubungan Internasional di salah satu perguruan tinggi terkemuka di Makassar. Kurang dari empat tahun, Aira berhasil meraih gelar sarjananya dengan predikat cum laude. Tak lama setelah diwisuda, Aira mendapatkan tawaran untuk menjadi seorang dosen di beberapa perguruan tinggi di kampung halamannya. 

Sembari menjadi dosen di dua perguruan tinggi swasta yang belum berumur satu tahun, Aira menginisiasi pendirian sebuah sekolah non-profit bagi anak-anak di daerah relokasi banjir di daerahnya. Kendati ia menghabiskan lebih banyak waktunya mengurusi sekolahnya tersebut, tak sepeserpun yang ia dapat dari sana untuk kantongnya sendiri. Bagi Aira, pengalaman pahitnya menjadi anak dari keluarga miskin yang begitu ingin belajar namun tak punya cukup uang untuk belajar menjadinkannya pribadi yang mudah prihatin. Sejarah hidupnya lah yang telah dengan begitu kuat mendorongnya untuk mendirikan sekolah yang bahkan tak punya gedung itu.

Dua tahun setelah diwisuda dan bekerja, Aira melewati proses panjang dalam kehidupan percintaannya hingga akhirnya ia menikah dengan salah seorang rekannya di kampus tempatnya mengajar. Dan begitulah, sekarang ia tengah hamil anak pertamanya. Jika tak ada aral, bulan September mendatang ia akan melahirkan. 

Pak Ibnu baru akan menelpon Aira saat keduanya sadar bahwa telepon genggam putrinya itu hilang beberapa minggu yang lalu dan belum sempat membeli gantinya. Dengan sabar dan berdebar, pak Ibnu dan bu Lia menunggu Aira pulang dari kampus tempatnya mengajar. "Biasanya dia sudah di rumah jam 12 siang karena jam 3 nanti dia ada kelas lagi" komentar bu Lia tak sabar.

45 menit lewat dari jam 12 Aira tiba. dengan perut buncit yang nyaris menenggelamkan seluruh tubuhnya dan dengan napas yang terengah-engah menopang berat bobotnya Aira memasuki rumah dan merebahkan badannya di kursi di ruang tengah. Seketika, pak Ibnu dan bu Lia menghampiri dan menyampaikan berita yang sedari tadi ingin mereka sampaikan. Mendengar cerita bapak dan ibu nya, Aira tertegun. Ia memang sedang menunggu telepon.

Dengan serta merta ia meraih telepon genggam bapaknya. Mencari nomor yang dimaksud lalu meneleponnya. Nada panggil terdengar. Tak lama, seseorang dari seberang sana menjawab. Aira lantas memperkenalkan dirinya. Aira terdiam beberapa saat menyimak kata demi kata dari seseorang di seberang sana. Lama tak bereaksi, Aira menutup telepon dengan air mata bercucuran.

Ditatapnya bapak dan ibunya dengan begitu lekat. Kedua orang tua itu mendadak kebingungan melihat Aira mengucurkan air mata. Belum sempat bertanya, Aira kembali terisak sembari berkata "Aira lulus, Bu. Aira dapat beasiswanya". Mereka bertiga menangis, lalu sujud syukur. Bening bulir air mata terus mengucur dari kedua mata Aira yang tak henti menyusuri sejarah hidupnya. Menyusuri lorong-lorong waktu yang membawanya kembali ke masa kecilnya yang pahit. 

Pak Ibnu tak punya pekerjaan tetap dan bu Lia yang hanya ibu rumah tangga. Pak Ibnu dulunya seorang supir bus, lalu berhenti dan menjadi tukang ojek, lalu berhenti lagi dan menjadi tukang tambal ban, lalu berhenti lagi dan menjadi supir truk di tambak udang milik orang cina. Dan akhirnya, ia berhenti lagi dan kembali mengelola bengkel tambal ban nya hingga sekarang. Aira dan keluarganya hidup serba pas-pasan. Saat anak-anak lain dibelikan sepeda, Aira hanya bisa membantu mendorong sepeda mereka saat mereka mengendarainya agar nanti diberi giliran untuk meminjam sepeda mereka. Saat anak-anak lain makan martabak telur sebagai cemilan, Aira dan adiknya makan martabak telur sebagai lauk pendamping nasi. Namun Aira tak pernah berkecil hati. Kendati sebagai anak ia juga ingin seperti teman-temannya, tak sekalipun ia menuntut apa-apa dari orang tuanya. Jauh dalam lubuk hatinya ia menyimpan asa bahwa suatu saat nanti, ia akan membuat orang tuanya bangga.

Hari itu akhirnya datang juga. "Aira akan kuliah di Amerika, bu". .....

tunggu part 2 nya yah...


No comments:

Post a Comment